Sungguh kemritik kuping saya ketika seseorang di Milis Civilian 93 menuduh saya berbohong bahwa sekarang mulai jarang makan tempe dan nasi serta mengatakan sekarang makannya steak dan keju. Padahal apa yang saya sampaikan benar adanya. Untuk membeli beras dan tempe, saya harus pergi ke Toko Asia yang harus ditempuh dengan naik sepeda atau angkot selama setengah jam. Harga sepotong tempe (kira-kira beratnya cuma 250 gram) adalah Rp 17.500-an. Kalau digoreng, tempe itu cuma bisa untuk makan sekali buat 3 orang. Untung saya punya ide yang cukup kreatif: tempenya saya buat sambal dan ditambah cabai dalam jumlah yang relatif banyak, jadi sambel tempe yang sedikit itu bisa untuk menghabiskan nasi hampir satu rice cooker.
Masalah bisa teratasi sampai hari Sabtu lalu saya belanja lagi di Toko Asia untuk beli beras. Ternyata harga beras naik gila-gilaan. Beras pecah impor dari Thailand yang biasanya harganya Rp 70.000,00 per 4,5 kilo sekarang naik menjadi Rp 120.000,00. Opo tumon? Ternyata memang krisis makanan sudah melanda seluruh dunia. Beberapa minggu lalu sempat lihat di televisi kalau Haiti rusuh karena harga makanan yang sudah tak terjangkau…juga di beberapa negara lainnya…hmmmm.
Melihat tingginya harga beras, saya malah punya ide untuk melakukan diet yang selalu tertunda. Siapa tahu dengan naiknya harga beras ini berat badan saya malah turun.
Berikut saya sertakan menu sarapan saya pada hari minggu tanggal 11 Mei 2008. Hanya sedikit nasi, Indomie rebus (2 bungkus dibagi 3 orang), plus air putih banyak-banyak biar kenyang. Ingat tanpa TEMPE, STEAK ataupun KEJU!
Read More
Mohon jangan dibahas dulu masalah tulangnya, mari kita bahas dahulu tentang RSS. Khususnya fitur RSS dari situs, milis, atau apapun konten yang telah dibikin oleh teman-teman Teknik Sipil UGM.
Apa sih RSS itu? Selengkapnya, klik di sini. singkatnya RSS adalah sebuah format untuk menyebarkan sebuah konten dari sebuah web.
...




