Aku ada cerita nih, semoga bermanfaat…..

Selama 5 hari, senin s/d jum’at, 16 – 20 Nov 2009, saya mendapat tugas untuk mengikuti diklat bangunan tahan gempa yang diadakan oleh Balai Diklat PU wilayah Jakarta yang bertempat di Sapta Taruna, Pasar Jum’at, Lebak Bulus, Jakarta. Walaupun agak melenceng dari tupoksi tempatku bekerja, (Bina Marga -jalan dan jembatan), tapi nggak papa lah untuk menambah wawasan.

Diklat ini diadakan, berangkat dari realita, bahwa wilayah Indonesia ini berada dalam wilayah bencana gempa. Apalagi akhir-akhir ini wilayah Indonesia sering diguncang gempa. Hal ini mendorong para ahli gempa di PU untuk merevisi peraturan gempa yang sudah ada (tahun 2002), karena gempa-gempa besar yang ada di Indonesia terjadi mulai tahun 2004 (Gempa/tsunami di Aceh, Gempa Jogja dan terakhir gempa Padang). Peraturan gempa yang baru nantinya akan memasukkan data dan informasi dari kejadian gempa besar tadi sehingga nantinya besar gempa rencana akan didesain dengan periode ulang 100 tahunan, lebih besar dari peraturan gempa 2002 yang didesain 50 tahunan. Para pengajar dari diklat ini kebanyakan dari Puslitbang Permukiman Dept. PU yang ada di Cileunyi, Bandung, yang kebetulan juga adalah tim penyusun peraturan gempa terbaru.

Seperti teman-teman ketahui, penentuan wilayah gempa di Indonesia didasarkan pada kenyataan bahwa wilayah Indonesia menjadi pertemuan 4 lempeng besar (lempeng eurasia, lempeng pasifik, lempeng australia dan lempeng….(lali) ). Daerah pertemuan tersebut mulai dari pesisir pulau sumatra bagian selatan sampai pesisir pulau jawa bagian selatan (2 lempeng -eurasia dan australia). Daerah pertemuan lainnya adalah Pulau Sulawesi bagian Utara, Kepulauan Maluku dan kepala Burung pulau Papua/Irian (3 lempeng-pasifik, australia dan lempeng…(lali) ).

Depertemen PU sendiri pada tahun 2009 ini, membuat buku saku perencanaan teknis bangunan rumah tinggal sederhana tahan gempa. Dalam buku tadi secara lugas dijelaskan tentang bagian-bagian dari rumah yang perlu diperhatikan supaya tahan terhadap gempa, diantaranya adalah bagian  antara kolom dengan tembok pengisi harus diberi angkur (hal ini karena banyak rumah penduduk -1 lantai-yang temboknya rubuh/rusak waktu terjadi gempa). Bagian lainnya adalah pertemuan balok dan kolom, dimana penulangan dari kolom harus masuk ke dalam balok, begitu juga sebaliknya. Perencanaan rumah tinggal tahan gempa ini tetap mengacu pada prinsip ekonomis, supaya bisa diterapkan oleh masyarakat secara luas.

Secara prinsip, bangunan tahan gempa bukan bangunan yang tahan terhadap gempa berapapun besarnya. Bangunan tadi tahan terhadap gempa kecil. Untuk gempa sedang kerusakan hanya bagian non struktural sehingga masih bisa diperbaiki. Sedangkan untuk gempa besar, bangunan akan rusak tapi tidak runtuh, sehingga penghuni didalamnya mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri.

Pada hari ke-4 dan ke-5, acara diklat adalah melakukan kunjungan ke Lab. Bahan Bangunan dan Struktural Puslitbang Permukiman yang ada di Cileunyi, Bandung. Di Lab. Bahan Bangunan, berisi alat-alat penguji bahan seperti beton, tulangan atau kayu. Sedangkan Lab . Struktur berisi tentang alat penguji struktur seperti alat penjungkit rumah (untuk memodelkan rumah yang diguncang gempa), alat untuk memodelkan beban lateral, dll. Oh ya peserta diklat tidak hanya perwakilan PU dari jabotabek, tapi juga dari daerah yang terkena gempa seperti Cianjur, Tasikmalaya dan Bantul. Salah satu peserta dari Bantul tadi ternyata rumahnya di Wijilan (nggak terlalu jauh dari rumahku di Kadipaten)

Sebenarnya, aku sudah menyiapkan untuk di-share disini, foto-foto waktu kunjungan ke Lab Bahan Bangunan atau Lab Struktur di Puslitbangkim PU, tapi kok nggak bisa di-upload ya…

Yang menarik adalah ternyata sedang dikembangkan agregat (semacam split) untuk campuran beton, yang bahan dasarnya adalah lumpur lapindo sidoarjo. Selain itu juga dikembangkan bata campuran limbah emas tailing Cikotok. Bata tersebut sudah diuji di Lab Bahan Bangunan Puslitbangkim, dan hasilnya kuat tekan bata tsb 40 kg/cm2 (lebih bagus dari bata merah biasa).

Untuk Lab Struktur, sedang dilakukan pengujian struktur balok sloof rumah tinggal sederhana dengan angkur ke pondasi terhadap gaya lateral/gempa. Akan dicari bagaimana konfigurasi angkurnya (jarak dan posisi). Selain itu ada meja jungkit dimana rumah tipe 21 skala 1:1 dijungkitkan/seakan-akan kena gempa, terus dievaluasi letak kerusakannya…

Sampai disini dulu ya…..

Random Posts

468 ad

2 Responses to “Diklat Bangunan Teknis Tahan Gempa”

  1. nDro, emangnya gempa untuk gedung sama gempa untuk jembatan beda ya? Kok kamu bilang melenceng dari tupoksi-mu?
    Nggak bisa upload foto di milis ini agak aneh, soale kalo pake IE yang lama, malah bisa tuh. Tapi kalo FF, Chrome dan Opera, nggak bisa. Yang mengeluh bukan hanya kamu, udah banyak, tapi admin tetap tak bergeming.

  2. pembebanan gempa di jembatan dan gedung sebenarnya sama, cuma kalo masalah tupoksi urusan jalan/jembatan dan urusan gedung dipisah (dinas-nya berbeda)…gitu Nung….

Leave a Reply