Pamor Teknik Sipil Menurun? Itu headline majalah Techno Konstruksi edisi bulan Agustus 2009.
Beberapa kenyataan yang terjadi sekarang, seperti ditulis didalam majalah itu antara lain:
1. Minat mahasiswa baru yang akan masuk jurusan Teknik Sipil terus menurun.
2. Dalam sebuah survey, ternyata pelajar SMA tidak mengetahui gambaran besar mengenai Teknik Sipil.
Dalam tulisannya, majalah itu mengkhawatirkan jika nanti pembangunan infrastruktur booming lagi, maka bisa jadi kita (Indonesia) harus mengimpor tenaga ahli Teknik Sipil dari LN [emang belum ya?
]
Dikatakan minat untuk menjadi Insinyur Sipil memang menurun dalam beberapa waktu belakangan. Banyak yang lebih memilih jurusan lain. Dan, lulusan terbaik Teknik Sipil-pun ditengarai tidak memilih bekerja menggeluti bidang profesinya, tapi memilih profesi lain, misalnya bidang keuangan. Atau, bila adapun, lulusan terbaik yang masih menggeluti profesi Teknik Sipil sering memilih bekerja di LN.
Mungkin karena dianggap tidak memberi prospek masa depan yang cerah. Apalagi kesan profesi Teknik Sipil itu pekerjaan yang dirty (kotor), dangerous (berbahaya), dan physical demanding (membutuhkan fisik prima). Makin membuatnya tidak menarik dan memudar pamornya.
Jadi ingat, pada waktu awal kuliah dulu, dikasih joke seperti ini:
The failure might not be due to the civil engineer, but you always assume it’s the engineer. If you come to Italy and see a nice building like the Colosseum, the normal reaction is “Woo, it was good architect”. But if you see there is a failure, Pisa Tower for example, the first question is, “Who was the civil engineer of this?”.
Hmm, untuk membuatnya lebih menarik, sepertinya mesti ada re-branding untuk profesi Teknik Sipil, nih!
