content top

LRFD

LRFD

Skripsiku berjudul “Perancangan struktur rangka baja bangunan gedung bertingkat berdasarkan spesifikasi LRFD-AISC”. LRFD singkatan dari Load and Resistance Factor Design, dimana pada perhitungan beban (tepatnya kombinasi beban) dikalikan dengan faktor pembesar tertentu, sedangkan resistance (kekuatan ultimit) dari elemen strukturnya dikalikan suatu faktor reduksi. Ini agak beda dengan perhitungan ASD, Allowable Strength Design dimana kalo ASD, kekuatan (nominal) elemen struktur langsung dibagi dengan suatu “safety factor”.

Waktu 1998 itu belum keluar SNI-nya, sehingga masih mengacu kepada code AISC, makanya judulnya ada kata-kata “berdasarkan spesifikasi LRFD-AISC”. Sekarang, sudah ada SNI-nya, dan malah sudah ada yang membuat buku ajar mengenai LRFD yang mengacu pada SNI (SNI 03-1729-2002), contohnya adalah buku yang diterbitkan oleh Penerbit ERLANGGA, seperti foto dibawah ini:

 

Read More

Garuda di Dadaku, the Movie

Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan pelatih cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.

Read More

Buku-buku Pram

Buku-buku Pram

Kita mungkin pernah dengar nama Pramoedya Ananta Toer (Pram), mungkin juga tidak. Itu nama pengarang buku, nama pengarang yang kukenal bukan karena aku pernah membaca bukunya, tapi karena mendengar bahwa (dulu) buku-bukunya pernah dilarang beredar. Dia tokoh Lekra, dan pernah diasingkan di P. Buru sebelum dikeluarkan dari sana Desember 1979 (statusnya kemudian menjadi tahanan rumah).

Eh, kemaren malah kulihat buku-buku Pram ada di etalase Library milik Sinarmas World Academy (SWA), berarti sudah merupakan bacaan yang disarankan (recommended readings). Kira-kira apa bacaan itu laku nggak di lingkungan seperti SWA?

Aku? Aku masih tidak merasa tertarik untuk membaca karya Pram. Setidaknya belum.

Read More

Orang-orang Proyek [karya Ahmad Tohari]

Orang-orang Proyek [karya Ahmad Tohari]

Aku punya novel karya Ahmad Tohari, “Orang-orang Proyek” terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama tahun 2007. Kubeli beberapa waktu lalu dengan harga Rp. 31.000,-. Pak Ahmad Tohari ini pernah terkenal dengan karyanya “Ronggeng Dukuh Paruk”. Dalam “Orang-orang Proyek” Ahmad Tohari bercerita tentang Insinyur Kabul, Site Manager idealis yang mantan aktivis kampus.

Read More

Tampilan Baru Gramedia Depok (Bag. 2-Kesimpulan)

Baru ingat, bahwa punya hutang untuk mengomentari tampilan baru Gramedia Depok, sesuai di artikel terdahulu, maka kesimpulannya adalah:

  • Gramedia Depok sekarang serasa di Shopping Center – Jogja, era 90-an. Rak buku tinggi-tinggi dengan penanda kelompok buku yang susah dilihat.
  • Walaupun demikian, masih ada nilai positif dari layout baru Gramedia Depok. Aku semakin bisa main kucing-kucingan dengan kedua anakku.
  • Dan yang lebih keren, ketika 2 minggu lalu kami ke sana, parkir udah penuh dan diminta parkir di Margo City, padahal masih pagi banget. “Keren jg, baru re-Layout langsung laris,…”, pikirku. Tetapi ternyata ketika pulang, aku iseng nanya ke security, mereka bilang area parkir dipakai untuk Try-Out SMA. Oh, kenapa tidak sekalian bilang, “Mohon seluruh pengunjung Gramedia Depok datang dengan angkot, karena parkir sedang dipakai Try-Out!”.

Kepingin rasanya memberi judul tulisan ini, “Gramedia Depok: re-Layout, Try-Out dan Angkot”.

Read More

Tampilan Baru Gramedia Depok (Bag. 1)

Minggu siang kemarin aku jalan-jalan ke Gramedia Depok yang ternyata saat itu sedang ada pekerjaan relayout ruang pajang bukunya.

Sempat diam sejenak, berada di batas tengah antara outlet baru, dan outlet dengan interior lama. Membandingkan, berharap ada sesuatu yang baru, yang lebih menarik dan lebih bagus.

Ternyata, semakin aku mencari, semakin aku kecewa. Bukan kecewa akan bagian kasir yang saat itu masih belum sempurna, bukan kecewa karena ada sebagian area yang ditutup dinding gypsum dengan sedikit debu dan suara ketukan palu para tukang.

Beberapa hal yang sempat kuperhatikan diantaranya:

  1. Rak barunya tinggi banget! Aku sempat mendekat dan mengukur tingginya, 170cm. Pas banget dengan tinggi mataku. Kenapa ini? Apa maunya dengan rak setinggi ini?
  2. Drop Ceiling. Plafond menjadi tidak flat. Bagus sih, tetapi space dari lantai ke plafond yang tadinya sudah terbatas, menjadi lebih pendek lagi. Apalagi dengan rak yang tingginya kebangetan tadi.

Kembali aku berdiri di tengah, di batas antara outlet dengan interior lama dan yang baru. Aku nggak ngebayangin, gimana caranya mereka nanti memberi petunjuk di masing-masing rak jika rak nya setinggi itu. Bagaimana mereka memberi petunjuk kelompok rak yang biasanya digantung di plafon, jika plafon nya sekarang dibikin berornamen.

Aku sempat lama berpikir, kira-kira standar outlet brunya nanti seperti apa? Masih mencoba memahami, kenapa rak dibuat setinggi itu. Harapanku hanya satu, agar rak itu hanyalah rak sementara, yang memiliki kapasitas tampung lebih gede karena tingginya.

Jadi, tulisan ini akan menjadi tulisan bagian ke-1, menunggu rak tinggi itu hilang. Mudah-mudahan, aku mendapatkan happy ending dengan standar outlet gramedia yang baru di tulisanku bagian ke-2 nantinya.

Read More
Page 1 of 212»
content top