
Diketinggian gunung ijen (2368 dpl) berbekal ijazah SMA Anton bersama puluhan pekerja lain mencoba mengadu nasib mengais rizki. Kilogram demi kilogram belerang dia kumpulkan dari kawah gunung ijen yang merupakan sumber belerang kemudian diangkut dengan keranjang yang dipikul dipundak menuruni gunung menuju pos penimbangan.
”Sambil menungu panggilan kerja Mas” kata Anton ketika ditanya alasan bekerja sebagai penambang belerang. Hanya berbekal ijazah SMA tanpa ditunjang keterampilan khusus, sulit untuk mendapatkan pekerjaan jelasnya lagi. Bagi Anton mendapatkan pekerjaan serasa mencari jarum yang hilang di tumpukan jerami. Betapapun mimpi itu selalu ada dalam setiap tidurnya.
Denyut kehidupan dimulai saat pagi subuh sekitar pukul 4 pagi, para pekerja yang menginap di pos bunder mulai berangkat menuju kawah gunung ijen. Berbekal keranjang untuk mengangkut belerang dan obor untuk menerangi jalan setapak menuju kawah mereka merayapi punggung gunung ijen. Bukan sebuah perjalanan yang mudah bagi orang yang tidak terbiasa, bagi para pekerja inilah jalan hidup.
Bukan tanpa alasan jika mereka memilih untuk berangkat ke kawah sepagi mungkin, setelah siang akan terjadi perubahan arah angin, pada siang hari angin akan bertiup ke arah jalur-jalur yang mereka lalui. Angin membawa asap belerang dari kawah yang membahayakan mereka. Selain menutup pandangan ke jalan setapak yang harus mereka lalui, asap belerang yang pekat itu sangat membahayakan paru-paru mereka. Bagi pekerja yang belum terbiasa pingsan adalah hal yang biasa saat terhantam asap belerang.
Tak ada peralatan khusus yang mereka gunakan bahkan untuk menghadapi asap belerang mereka hanya mengandalkan secarik kain basah yang digunakan untuk menutupi hidung sambil sebagian kecil kain penutup itu mereka gigit. Kesehatan tubuh seakan merupakan hal yang tidak berarti bagi mereka. Ketiadaan peralatan yang mempunyai standar keamanan yang memadai tidak menyurutkan langkah mereka untuk menambang belerang.
Setelah mengisi penuh keranjang-keranjangnya perjalanan kembali ke tempat penimbangan di Pos Bunder dimulai. Dengan berat sekitar 60 sampai dengan 100 kilogram di pundak mereka menapaki jalan setapak dengan kemiringan 300 sd 450. Perjalanan kembali menuju tempat penimbangan baik di pos Bunder maupun pos Paltuding adalah perjalanan yang melelahkan dikarenakan beban yang ada di pundak mereka dan matahari yang mulai terik.
Dari Pos Bunder setapak demi setapak para pekerja memikul keranjang berisi belerang menuruni gunung Ijen, ketika lelah mulai menyapa mereka beristirahat sejenak, sekedar untuk meluruskan kaki yang mulai goyah sambil menghisap sebatang rokok. Tidak ada alasan untuk berlama-lama untuk beristirahat, seakan berlomba dengan waktu mereka bergegas mengangkat keranjang belerang menuju tempat penimbangan di Pos Paltuding.
Dalam satu hari kerja mereka bisa dua kali turun memikul keranjang belerang dengan berat rata-rata 120 kilogram sampai dengan 170 kilogram. Harga per kilogram belerang adalah 600 rupiah, tak banyak memang uang yang mereka dapatkan dalam satu hari dibandingkan dengan keringat yang mereka keluarkan dan bahaya yang dihadapi. Tapi itulah kenyataannya hanya pekerjaan inilah yang mereka dapatkan untuk sekedar menghidupi keluarganya.
Dalam sebulan mereka biasanya menambang selama kurang lebih 14 hari. Ada pekerja yang menginap di pos Bunder dan ada pekerja yang setiap hari pulang kerumah masing-masing. Di pos Bunder terdapat barak terbuat dari papan yang bisa digunakan sebagai tempat menginap para pekerja yang memilih untuk tidak pulang ke rumah masing-masing.
”Tidak ada gunanya mengeluh, kerjakan apa yang ada” begitulah para pekerja memaknai hidup mereka, tak terlihat sedikit pun di wajah mereka penyesalan atas apa yang digariskan oleh Tuhan atas hidup mereka. Bahkan mereka berusaha bertahan dengan segala kondisi yang ada dihadapannya. Tak sedikit dari pekerja yang telah melampaui waktu 2, 3 bahkan lebih dari 10 tahun menambang belerang.
Saat hari menjelang sore sekitar pukul 3 siang, satu demi satu pekerja mulai mengumpulkan keranjang mereka di pos penimbangan paltuding. Truk dari perusahaan yang mempunyai konsesi pengelolaan tambang belerang sudah menunggu untuk mengankut belerang di gudang perusahaan. Saat yang ditunggu-tunggu para perkerja akhirnya tiba, pengawas perusahaan memanggil nama mereka satu demi satu untuk menimbang keranjang-keranjang belerang mereka. Setelah ditimbang mereka menerima catatan hasil penimbangan yang kemudian mereka tukarkan dengan uang sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh perusahaan.
Senja mulai menapak di ufuk barat saat para pekerja menaiki truk perusahaan PT Candi Arimbi untuk menumpang menuju rumah mereka masing-masing. Bagi mereka yang bertahan di Pos Bunder disibukkan dengan menyiapkan makan malam mereka. Tanpa terasa para penambang pun mulai terlelap dipeluk sang dewi malam yang menyanyikan lagu yang selalu sama tentang nasib para pekerja, saat terjaga esok hari kawah Gunung Ijen yang selalu menyemburkan belerang telah menunggu mereka.
-ada beberepa foto yang tidak bisa di upload karena koneksi internet yang kurang bagus, ada pula yang rusak saat peyimpanan, kalau nanti waktu mengijinkan saya akan kembali ke gunung ijen.
Read More














