content top

Kapan Para Mantan Presiden Kita Bisa Akur?

Kapan Para Mantan Presiden Kita Bisa Akur?

Ini gambar aku ambil tadi, di www.whitehouse.gov. Terus-terang, walau bukan USA Lover - tapi aku terkesima (cenderung iri) soal yang satu ini. Kok, kita nggak pernah punya kesempatan, untuk memperoleh foto para presiden akrab bersama dalam satu kesempatan?

Bukan rahasia jika masalah tidak harmonisnya hubungan para mantan presiden Indonesia memang ada. Mereka terkesan saling memusuhi dan mempunyai dendam pribadi. Padahal, jika bisa saling berkomunikasi, masing-masing presiden sebenarnya bisa memberikan banyak sumbangan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Orang Indonesia kan orangnya masih sangat tergantung contoh yang diberikan patron-nya. Jadi, harmonisnya hubungan mereka sebenarnya bisa meredam/mencegah konflik di level rakyat bawah. Kita bisa bilang, “Tuh, lihat… beda pendapat boleh, tapi nggak sampai benci-bencian“.
Mudah-mudahan para mantan Presiden kita bisa mencontoh hubungan para mantan presiden di luar negeri (AS seperti contoh gambar diatas). Mereka memang tidak berkawan akrab, tapi mereka bukan musuh yang saling membenci.

Kalo para mantan presiden kita nggak bisa belajar dari hal ini, juga nggak papa – setidaknya kita bisa belajar dari hal ini.

Read More

Mengapa takut berbuat salah…?

Mengapa takut berbuat salah…?

Tadi pagi saya dapat cerita ini:

A new bank president went to meet his predecessor. Upon being introduced he quickly said, “I would like to know what have been the keys to your success”. The older man looked at him for a moment and replied, “Young man, I can sum it up in two words: Good decisions.”
To that the young man replied, “I thank you immensely for that advice, sir, but how does one come to know which are the good decisions?” . “One word, young man,” replied the old man. “Experience.”
“That’s all good and w
ell,” said the young executive, “but how does one get experience?” . “Two words,” replied the old man, “Bad decisions.”

Jadi, sesungguhnya kesalahan [kegagalan] itu ada gunanya juga. Tapi tetap saja saya takut untuk berbuat salah. Salah satunya mungkin karena takut akan konsekuensi yang harus dihadapi karena terjadinya kesalahan itu. Menghindari kesalahan itu bagus, karena saya dan orang lain bisa terhindar dari resiko dan bahaya yang mungkin terjadi.

Dan, pagi ini saya dapat pelajaran: Jangan karena takut berbuat salah, jangan takut coba-coba. Jangan karena takut salah terus kita jadi nggak berbuat apa-apa. Ingat: Jika kita berhenti mencoba, sesungguhnya kita telah menghalangi adanya kesempatan untuk belajar.

Tapi, nggak ah kalo coba-coba tanpa ada perhitungan. Tetap saja kita harus berhitungcalculated risk” yang ada probability akan terjadi. Memang sih, orang yang pintar belajar dari kesalahan – tapi saya maunya belajar dari kesalahan orang lain aja deh. Saya masih susah mengucapkan mea culpa, mea maxima culpa.

Read More

Utamakan yang Utama

Utamakan yang Utama

Dulu, sekitar tahun ke-3 di UGM aku beli bukunya Covey the 7 Habits. Dari 7 kebiasaan, Habit No.3 adalah, “First Thing First”, dahulukan hal yang terpenting.


 

 


Setahuku, itu nggak cuma Covey aja yang bilang. Orang Indonesia pun udah dari dulu, bahkan dianjurkan. Dalam sesi-sesi kursus kepemimpinan, ada istilah bahwa salah satu sifat Pemimpin itu adalah Ambeg Parama Artha, ndhisik’ake perkara sing nome siji. Berarti, pemimpin harus memiliki kapabilitas untuk menentukan dan memilih dengan tepat hal atau permasalahan mana yang harus didahulukan.

Sampai disini semua setuju. Masalahnya adalah, bagaimana menilai hal itu penting? Bagaimana menentukan bahwa suatu masalah itu adalah priotitas utama?

Susah. Kita harus kasih kriteria-kriteria, trus kasih bobot. Udah itu baru dianalisis, dan yang dapat poin tertimbang tertinggi-lah yang kita ambil sebagai prioritas. Di saat tenang dan ada kesempatan brainstorming aja sulit, apalagi di saat yang mendesak dan genting. Wah, tambah susah.

Apalagi, jika sudah ada faktor lingkungan lain yang mempengaruhi, seperti bias kepentingan, dan distorsi informasi, serta banjir informasi yang kontradiktif. Wah bakalan tambah sulit. Itu baru mengambil mana yang akan didahulukan. Belum mengambil keputusan setelah dapat prioritas akan ngapain lagi.

Ada pengalaman dari teman-teman yang bisa di-sharing disini?

Read More

Are employees are more productive after vacation than before one?

Are employees are more productive after vacation than before one?

Ini yang menjadi pertanyaan pada diri saya.





Kata pakar, liburan sesungguhnya adalah kesempatan bagi kita untuk relaksasi atau untuk men-recharge diri kita, sehingga setelah kembali bekerja sehabis libur maka produktivitas kita menjadi bertambah.

Benarkah demikian?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin ada masukan dari teman-teman: Apakah setelah liburan panjang kemaren, terasa meningkatkah produktivitas kerja kita?

Read More

Usia Anakbuah lebih Tua

Usia Anakbuah lebih Tua

Ada yang bilang begini, “It can get pretty frustrating when you’ve worked your whole life perfecting your skill and knowledge with full experience; and then someone who doesn’t know what he’s doing gets up there to supervise you“.

Nggak masalah buatku punya atasan lebih muda, karena buatku profesionalitas itu nggak ada relevansinya sama usia. Orang bisa punya skill dan knowledge yang lebih dari kita walaupun usianya lebih muda.

Justru lebih berat jika kita menghadapi hal [kondisi] sebaliknya: Kita yang lebih muda sekarang jadi Boss. Nah, bagaimana sikap kita terhadap bawahan yang lebih tua dan pengalaman? Yang ini sepertinya, agak kurang suka mendapat Boss yang masih “ijo”. Kan, nggak semua orang open-minded toh?

Read More

Qonaah (‘Merasa Cukup’) vs Struggle (‘Berjibaku’)

Kemampuan seseorang dalam keberhasilannya ‘meraih’ sesuatu biasanya diimbangi dengan keinginan seseorang untuk ‘melepas’ sesuatu (supply vs demand, pendapatan vs belanja, dll). Contoh konkrit-nya, mungkin adalah seperti ini, “Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi pula kebutuhan/belanja seseorang.

Ada seseorang yang menyesuaikan pengeluaran-nya dengan pendapatan yang pasti diterimanya (100%). Ada pula yang menyesuaikan pengeluarannya dengan pendapatan yang ‘belum pasti’ diterimanya (maksudnya kemungkinan diterimanya kurang 100%, tapi harusnya sekitar 80% – 95%). Akan menjadi tidak bijaksana bila seseorang menyesuaikan rencana pengeluarannya dengan rencana pendapatan yang kemungkinan diterima-nya kurang dari 50%. Prosentase-prosentase tadi mungkin sifatnya relatif tapi yang perlu di-garis bawah-i disini adalah seberapa jauh kita ’struggling’ dalam menutupi pengeluaran kita, atau seberapa jauh kita ‘menahan diri’ untuk ‘menekan’ dalam menentukan limit kebutuhan kita.

Dua hal paradoksal diatas, mungkin bisa kita renungkan sebagai 2 (dua) hal yang bertentangan atau 2 (dua) hal yang saling ‘menyeimbangkan’. Struggle atau terjemahan kasarnya : berjibaku) bisa kita tafsirkan macam-macam seperti bekerja keras (atau smart) sampai batas maksimal potensi kita. Jika sikap struggle menjadi suatu budaya/kebiasaan mungkin lama-lama kita tidak menganggap itu sebagai suatu beban, tapi menjadi suatu sikap hidup positif. Asal jangan terlalu memforsir, nanti bisa stress.

Bersikap ‘Qonaah’, ada yang mengartikan bersikap menerima apa adanya, tapi bisa juga diartikan membuat suatu limitasi/pembatasan, sejauh mana kemampuan kita dalam meraih sesuatu.

Keseimbangan (Balanced) antara qonaah dan struggle bisa jadi membuat kita merasa nyaman. Artinya limitasi yang kita terapkan harus selalu kita naikkan/upgraded secara bijaksana dengan diimbangi sikap qonaah yang juga kita upgraded. Insya Allah kita akan menjadi orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan esok akan lebih baik dari hari ini. Amin.

Read More
Page 1 of 212»
content top