Ciumlah Garuda di Dada MU
Suatu sore, (hampir) setahun kemarin.
Timnas Indonesia berjibaku melawan Bayern Muenchen. Benarkah berjibaku? Tepatnya hanya (seperti) seadanya meladeni sebagai tuan rumah. Indonesia kalah telak dari FC Hollywood yang nggak hollywood-hollywood amat. Waktu itu Muenchen hanya membawa Oliver Kahn, Ze Roberto, Mark Van Bommel dan Daniel van Buyten.
Entah karena terlalu menjiwai sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia menyerah 1-5. Bintang pertandingan ini Jan Schlaudraff, pencetak hattrick.
Sapa tuh?
Read MoreApa balasanmu, Timnas?!
Suatu sore pada 14 Juli 2007.
Saya bersama 2 teman berkumpul, menunggu saat untuk berangkat ke Gelora Bung Karno. Kemudian, kami bergerak dan membaur bersama sekitar 65 ribu penonton lainnya. Kami ingin menyaksikan perjuangan timnas Indonesia, yang akan berjibaku dengan Arab Saudi di Piala Asia 2007. Ingin kami melihat bukti bahwa semboyan ‘Ini Kandang Kita’ bukan cuma jargon penjual merchandise resmi tim Merah Putih.
Dan benar. Kebanggaan bertahtakan Garuda di dada tak mampu kami sembunyikan. Kami larut dalam eforia ketika Ellie Aiboy mencetak gol kelas dunia. Gol yang menyamakan skor 1-1. Namun, kami tetap bergembira seusai Arab mencetak gol penentu kemenangan 2-1 di injury time babak kedua. Tepuk tangan sembari meneriakkan yel2 ‘Indonesia’ adalah bukti betapa kami menghargai perjuangan mereka, hingga detik terakhir.
Empat hari berselang, saya bersama teman-teman Trans7 kembali ke Senayan demi mendukung perjuangan timnas Indonesia. Semifinalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan, jadi lawan berat berikutnya. Segenap penjuru Indonesia mengirimkan doa dan hasilnya 87 ribu menyemut di kitaran Senayan. Sungguh tak bisa dibayangkan, inilah momen terindah sebagai bangsa Indonesia. Akan lebih terhormat kalau Garuda gagah bertahta, malam ini. Demikian unjuk keinginan hati kami masing-masing.
Apa yang terjadi?
Merah Putih kembali takluk sejak menit 33. Gol Kim Jung-Woo mungkin bisa mengubur langkah Indonesia ke perempat final, namun tak akan mengaramkan dukungan spartan kami pada timnas tercinta.
Kami bangga ketika mendapat tepuk tangan penghargaan punggawa timnas Indonesia. Wujud bahwa kami selalu punya ikatan batin tiada tara, meski sebagian besar dari kami menempuh perjalanan demikian jauh, mengorbankan apapun, demi membeli tiket puluhan ribu rupiah, dan menyaksikan perjuangan para pahlawan lapangan hijau negeri ini. Langsung.
Dan ketika menelan 2 pil pahit kekalahan menyesakkan, kami masih bisa menerima. Tanpa huru-hara dan anarki, semuanya meninggalkan Senayan dengan semangat perdamaian ala Garuda Pancasila.
Tapi… kami dahaga menunggu kado timnas, atas segala perjuangan dan dukungan tak kenal lelah kami.
Tibalah kami pada awal Piala AFF Suzuki 2008.
Semangat meletup ketika dukungan kami berbalas kemenangan 3-0 atas Myanmar. Suka-ria makin membahana mengiringi eforia 4 gol tanpa balas atas Kamboja. Semuanya kami anggap sebagai awal untuk mengiringi datangnya kado timnas sebenarnya. Kemenangan atas Singapura.
Sejumlah kawan berangkat ke Senayan mendukung langsung. Eforia memang kontan merebak jelang timnas Indonesia berlaga melawan Negeri Singa. Tiket berharga minimal Rp 50 ribu ada di tangan sebagian 40 ribu penonton Senayan. Kawan-kawan mengantongi karcis senilai Rp 100 ribu. Tak masalah dengan perngorbanan finansial dan waktu kalau Indonesia menghapus luka kami, ketika menyaksikan kekalahan dari sang tamu Singapura, pada 2004.
Namun apa yang terjadi?
Sesak kembali menyeruak di dada kami. Dua gol Singapura menenggelamkan keinginan kami. Kekecewaan jelas membuncah, namun segera teredam ketika mengingat, “Mungkin timnas tak sengaja menunda hadiah buat kami. Kemenangan atas Thailand-lah yang akan mereka persembahkan.”
Dukungan besar akan kami hadirkan lagi. Tak masalah kalau harga tiket minimal, melejit hingga Rp 75 ribu. Itu adalah janji yang PASTI kami tepati, dan kami yakin timnas Indonesia akan memberi kemenangan yang akan menghapus dahaga sekian lama kami. Kami rindu kemenangan terhormat yang entah kami pendam sejak kapan.
Indonesia Raya berkumandang jelang partai besar melawan Thailand, Selasa (16/12/2008). Sebagian bsar penghadir Gelora Bung Karno gempita menyanyikan. Kemenangan seperti telah di depan mata.
Semuanya lenyap tanpa bekas, kala gol Teerasil Dangda menyentuh jala Indonesia. Ambisi kami musnah di menit ke-6. Tapi, kami sabar menunggu, sembari memberi dukungan tak kenal lelah. Namun hingga 4 menit injury time babak kedua berakhir, kado yang kami harapkan tak kunjung hadir.
Kendati getir, kami keluar dari Senayan tanpa semburat anarki. Di mata internasional, kami adalah suporter terhormat yang tak akan pernah memberi cacat pada dukungan tanpa lelah kami.
Tapi, kami sudah terlalu lelah berteriak. Entah berapa lama lagi waktu, berapa besar uang lagi, berapa puluh titik air mata, dan berapa luas kebesaran hati kami korbankan. Apa balasanmu, timnas Indonesia?! Apakah kebiasaan anarki di liga lokal telah membutakan mata hati Anda sekalian hingga tak melihat keinginan KECIL kami?
Kami tunggu kado Anda di Rajamangala, 20 Desember ini. Akan bermakna ganda kalau kalian membawa kemenangan di markas Gajah Putih.
Mungkin kami tak akan hadir, tapi dukungan kami senantiasa bersama kalian. Semoga kalian mendengar teriakan kami nun jauh di sini dan menerbitkan inspirasi kalau Thailand tak lebih baik dari siapapun di kolong langit ini. Camkan itu!
Read MoreBravo Espanola!
Pertandingan final dengan dua karakter permainanan berbeda, tentunya akan menjadikan pertandingan ini menjadi menarik. Bermain agak lamban diawal pertandingan, kedua kesebelasan mulai menyajikan permainan menyerang. Spanyol beberapa kali mengancam gawang Lehmann dengan permainan tik tak satu dua dan Torres sebagai goal getter. Beberapa kali Torres beradu lari dengan para bek jerman dan satu sundulannya sempat menerpa sisi kanan tiang gawang. Pada menit ke-33 Torres ‘El Nino’ membuktikan kapasitasnya sebagai penyerang papan atas setelah menyelesaikan umpan terobosan Xavi dengan beradu badan dengan Lahm. 1-0 untuk Spanyol.
Jerman tidak langsung bangkit, bahkan Spanyol terus menekan pertahanan Jerman. Ballack sempat keluar lapangan setelah pelipisnya berdarah-darah akibat berbenturan dengan salah seorang pemain Spanyol. Jerman perlahan-lahan mulai mengorganisasi serangan untuk menekan lawan, tetapi Spanyol tetap berbahaya melalui serangan balik cepat yang dengan beberapa sentuhan langsung ada di kotak penalti lawan.
Diawal babak ke-2 pelatih Joachim Loew mengganti Lahm yang dianggap kurang mampu menjaga Torres. Jerman pun langsung bermain menekan untuk mengejar defisit gol. Spanyol pun tidak mau kalah dalam melakukan tekanan. Pada menit ke-60 Joachim Loew mencoba berjudi dengan memasukkan penyerang Kevin Kuranyi menggantikan bek Jerman. Permainan menyerang Jerman mulai membaik. Aragones pun merubah strategi memperkuat pertahanan, mengganti gelandang menyerang Fabregas dengan gelandang bertahan Xabi Alonso. Sergio Ramos dan Iniesta membuat 2 shots on goal berurutan dalam selang waktu beberapa detik, walaupun masih bisa diblok oleh kiper lehman dan bek Jerman.
Hingga pertengahan babak ke-2, Jerman tampak kesulitan dalam membongkar pertahanan lawan. Sedangkan Spanyol, dengan lini tengah atraktif berhasil meredam agresifitas Jerman dengan melakukan pertahanan solid dan penyerangan yang efektif. Di menit ke-80, Senna, yang tidak pernah mencetak gol bagi Spanyol, hampir saja mencetak gol jika ia tidak terlambat beberapa langkah dalam menyambut umpan di depan gawang Lehman yang tidak terjaga. Akhirnya, sampai dengan pertandingan selesai, Jerman tidak mampu mencetak gol hingga Spanyol pun merengkuh gelar setelah tahun 1964.
Tampak di layar, pelatih sepuh Aragones digotong dan dilempar ke udara beberapa kali oleh para pemain Spanyol untuk merayakan kemenangan mereka. Ngeri juga, pelatih berumur 70 tahun ini dilempar-lempar seperti itu. Bravo Espanola!
Catatan : Entah ada pengaruhnya atau tidak, sebelum pertandingan dimulai, penyanyi Spanyol Enrique Iglesias, dipilih oleh panitia pertandingan untuk menyanyikan salah satu theme song euro 2008 (judulnya lupa, tahunya cuma lagu like a superstar by Shaggy), dan Spanyol-pun menang…….
Read MoreRusia, Out of Expectation
(sumber foto:kompas.com)
Diawali dengan pidato ‘politik sepakbola’ Soetrisno Bachir dan hujan rintik2 sesudahnya, pertandingan Rusia-Spanyol berlangsung dalam tempo sedang. Walaupun menang dalam ball possession, Rusia terlihat kesulitan menembus kotak penalti lawan. Spanyol bermain lebih taktis dan Fernando Torres beberapa kali menusuk sampai ke kotak penalti dan membuat sibuk barisan pertahanan Rusia. Kiper Akinfeev bermain tenang dan beberapa kali menggagalkan peluang mencetak gol para pemain spanyol. Menurut statistik, sepanjang euro 2008, kiper Akinnfeev adalah kiper yang paling sibuk, dengan melakukan beberapa kali penyelamatan lebih banyak daripada kiper lain.
Kembali ke pertandingan. Pada menit ke-30-an Tendangan Pavluychenko di luar kotak penalti, tipis di sisi kanan gawang Iker Cassilas. Hujan masih juga berlangsung dan di gambar terlihat petir menyambar2 diatas stadion, waduh….Rusia akhirnya mendapat peluang didalam kotak penalti, tapi masih bisa dihalau barisan pertahanan spanyol. Di menit ke-35-an David Villa yang cidera ditarik keluar digantikan Fabregas. Menarik, karena seorang penyerang digantikan oleh gelandang serang dan playmaker, sehingga formasi menjadi berubah. Sampai dengan akhir babak pertama, dengan kondisi lapangan yang agak basah, Rusia kalah dalam shots dan shots on goal, tapi unggul tipis dalam ball possession 52:48.
Di awal babak kedua, penetrasi dan umpan cepat Andres Iniesta di sisi kanan kotak penalti rusia disambut oleh tendangan Xavi Hernandez yang berlari diantara dua defender Rusia yang terlambat mengantisipasi gerakannya. Bola bersarang disisi kanan gawang Akinfeev. Gol Barca connection ini membuat Spanyol lebih antusias untuk terus melakukan tekanan ke gawang Rusia. Beberapa peluang emas didapat, dan Rusia kelihatan kewalahan. Rusia need a goal and rain continues fell down.
Sampai pertengahan babak kedua, Rusia belum juga mencetak shots on goal. Torres dan pencetak gol Xavi diganti. Skema penyerangan Rusia lagi-lagi selalu kandas di luar kotak penalti Spanyol. Di menit 73, Dani Guiza, penyerang pengganti Torres suddenly lolos dari jebakan ofside untuk menyambut umpan Fabregas dan mengecoh barisan pertahanan Rusia. Gol keduapun terjadi. Spanyol menatap final, pendukung Rusia terdiam.
Di menit 82, lagi-lagi umpan Fabregas ke tengah kotak penalti lawan diselesaikan dengan manis oleh David Silva. Gol ke-3 ini menambah penderitaan Rusia. Penampilan Rusia kali ini sepertinya merupakan anti klimaks dari penampilan sewaktu melawan Belanda. Penetrasi dari kedua sayap rusia mandek. Umpan pendek akurat tidak kelihatan. Diluar penampilan barisan pertahanan Spanyol yang luar biasa, para pemain Rusia yang melakukan penyerangan kelihatan lelah untuk kembali ke belakang sewaktu kehilangan bola. Alhasil, para pemain Spanyol menjadi leluasa untuk mengobrak-abrik pertahanan rusia yang acakadut. Di akhir pertandingan, shots/shots on goal rusia 8/1, sedangkan spanyol 19/10.Wow!
Guus Hidink memang sukses mengantarkan tiga negara berbeda ke semi final di kejuaraan tingkat dunia/eropa (Belanda 1998, Korea 2002 dan Rusia 2008), tapi tidak untuk sampai final. Dua playmaker dengan dua kondisi berbeda. Fabregas bermain luar biasa dengan 2 assist-nya, sedang Arshavin seperti ‘kelihatan tidak bermain’….
Read MoreTurki mengejutkan, Jerman Melaju
(sumber foto: kompas.com)
Langsung menekan di awal-awal pertandingan, Jerman kelihatan pede dengan materi pemain-pemainnya. Turki, dengan 15 pemain tersisa diperkirakan akan kewalahan dalam menghadapi Jerman. Kenyataannya lain, tipikal tim yang kurang pede dengan materi pemainnya, biasanya selalu membuang bola jika lawan kehilangan bola sewaktu melakukan penyerangan. Tidak ada skema untuk menyerang balik. Tapi Turki tidak. That was suprising to see. Turki berani bermain di daerah pertahanannya sendiri untuk menyusun skema penyerangan, setelah lawan kehilangan bola, walaupun banyak pemain Jerman ada disitu.
Bermain bertahan mungkin bukan pilihan bijak untuk Turki. Membangun kepercayaan diri, itulah yang harus dilakukan. Suprisingly, Chazim Kasim langsung membuat 2 shots on goal di awal pertandingan (satu membentur tiang), sedangkan Jerman belum sama sekali. Setelah bermain apik, dengan skema permainan dan determinasi, Turki mencetak gol pertamanya. Setelah gol tersebut, Turki tetap melakukan penyerangan dengan skema 2 sayap yang aktif dan lini tengah yang akomodatif dalam menyerang dan bertahan.
Bagaimana dengan Jerman? Sempat kelihatan pede diawal pertandingan, Jerman kelihatan kaget dengan permainan yang ditampilkan lawan. Permainan Jerman kurang berkembang. Diantara tekanan Turki, dengan skema serangan balik, Jerman membangun serangan lewat sayap kiri, Lukas Podolski menusuk hingga ke kotak penalti lawan dan langsung mengirimkan umpan cerdas ke arah lari Schwensteiger, yang dengan sekali sentuhan, mengecoh kiper Rustu. Yang perlu diperhatikan, sampai dengan menit ke-30-an Shot/Shot on Goal Turki 9/8, Jerman? 2/1……walahhhh.
Di babak ke-2, Turki tetap tidak mengendurkan tekanan, tapi Jerman tetap melakukan tusukan mematikan dari sayap. Pada menit ke-50, penetrasi bek sayap kanan Philips Lahm dijatuhkan bek Turki pas di garis kotak penalti, tapi wasit tidak melihat sebagai pelanggaran walaupun dalam tayangan ulang, bek Turki terlihat melanggar Lahm.
Setelah terputus akibat gangguan satelit, Jerman mulai dominan dalam penguasaan bola. Tempo permainan agak melambat. Sekitar menit ke-70-an, gangguan satelit terjadi lagi, dan diberitakan kedudukan sudah menjadi 3-1 untuk Jerman….walahhhh. Eittt, ternyata direvisi menjadi 2-2, satelit berfungsi lagi. Pada menit ke-89 Philips Lahm, bek sayap dengan penetrasi tinggi mengecoh para pemain belakang, berlari tanpa bola hingga tinggal berhadapan dengan kiper dan gol pun tercipta. Satelit ngadat lagi, gangguan badai menghambat satelit. Beberapa saat kemudian, satelit beroperasi lagi, pertandinganpun berakhir 3-2 untuk Jerman. Well…….
Gangguan badai, gangguan satelit, revisi skor, excellent performance Turki, Staying Power Jerman mewarnai semifinal ini….
Read More



