Ini bukan nama orang, tetapi nama topan (badai tropis, hurricane) di sono. Trus, kalo sering terjadi topan seperti itu, kira-kira bagaimana respon Civil Engineer disana, ya?

Kalau di Indonesia, beban angin (W) sepertinya sudah masuk ke peraturan pembebanan indonesia – tapi sepertinya kalah “tenar” dibanding dengan beban mati (D), beban hidup (L), dan beban gempa (E).
Tapi, walaupun tidak setenar mereka, sepertinya sudah mulai diperhatikan – setidaknya beberapa gedung sudah di-analisis menggunakan model dan terowongan angin. Mungkin karena sudah mulai banyak bangunan tinggi dan ramping ya? Dulu kan, sewaktu harga tanah murah, biasanya bangunannya melebar horizontal.
Apa ya yang kuingat tentang beban angin? Oh ya, satuannya kg/m2 trus selalu tegak lurus dengan atap/bidang, trus ada yang tekan dan ada yang hisap. Oh ya, dulu katanya angin bisa membuat bangunan ber-resonansi. Ingat jembatan gantung yang bergoyang itu? Jadi walau struktur diharapkan ringan tapi kekakuannya harus cukup rigid sehingga nggak terombang-ambing.
Lha, kalo soal bentuk bangunan? Soal aerodinamika gimana? Wah, nggak tahu soal itu. Dulu sepertinya pelajaran tentang aerodinamika gedung nggak masuk silabus ya? Mungkin ada teman yang sekarang studi atau bergelut di bidang ini? Aku sih nggak minat, takut masuk angin..! Hehehe..!
Mudah-mudahan hurricane seperti Katrina nggak mampir ke Indonesia, tapi jikalau mampir (akibat global warming) mudah-mudahan para engineer disini sudah siap.Jadi paling tidak nggak ada kerusakan berat, paling cuma di bagian cladding/wall saja.

Ya memang harusnya begitu, lha wong kita ini sudah dikasih kemudahan nggak ada beban salju kok, masak ngitung angin aja nggak mau. Atau, lebih hebat lagi jika anginnya bisa dikonversi jadi energi untuk penerangan atau AC. Wah, hebaat…!
Read More