content top

Short Course HAKI 2009

Short Course HAKI 2009

Short course HAKI kali ini berjudul “Desain dan Perhitungan Struktur Tahan Gempa”, pertama ngelihat poster iklannya kayak gambar di bawah:

Karena tertarik, aku akhirnya ndaftar. Short course ini diselenggarakan serial dengan Seminar Nasional HAKI 2009, cuma aku nggak ikutan seminarnya.

Kesanku setelah mengikuti Short Course ini, ternyata code (peraturan) desain sudah berkembang. Dulu yang kami pelajari masih SK SNI T-15-1991-03, masih bicara soal “daktilitas tingkat 1, 2, 3″, sekarang sudah ada SNI 03-2847-02, dimana ada sistem struktur dasar antara lain, sistem rangka pemikul momen (SRPMB,SRPMM, & SRPMK), sistem dinding struktural (SDSB & SDSK), dan kombinasi (sistem tunggal versus sistem ganda).

Analisis struktur yang digunakan untuk perencanaan gempa pun sudah bukan sekedar “Analisis Beban Gempa Statik Ekivalen”, tapi sudah “analisis respon dinamik riwayat waktu non-linear”. Yang jelas, aku udah banyak yang nggak mudeng lagi (dulu nggak tahu, sekarang nggak inget).

Pada short course itu, aku ketemu teman lama, sesama alumni TS UGM, Ari Suryo Purnomo (Nomo). Dia kerja di PT. Inalum, Sumut. Tentu saja sempat ambil foto bareng :)

Read More

Pekerja Konstruksi Kita Tidak Mendapat Cukup Perlindungan

Pekerja Konstruksi Kita Tidak Mendapat Cukup Perlindungan

Banyak peristiwa kecelakaan kerja terjadi di negara kita, kenyataan yang menyedihkan karena itu menggambarkan betapa para profesional konstruksi tidak memberikan perhatian pada unsur safety atau K3.

Sekarang bahkan peristiwa yang sama terjadi di negara lain. Menyedihkan, ternyata nggak di negara sendiri maupun di negara lain, keselamatan pekerja konstruksi kita sering terabaikan.

Jaya Supermarket, Selangor. 9 Pekerja Konstruksi Indonesia menjadi Korban.

Read More

Mengapa Jembatan ini Roboh?

Mengapa Jembatan ini Roboh?

http://surabaya.detik.com/readfoto/2008/12/11/162145/1052212/473/5/

Read More

Hanna, Gustav, Ike

Hanna, Gustav, Ike

Ini bukan nama orang, tetapi nama topan (badai tropis, hurricane) di sono. Trus, kalo sering terjadi topan seperti itu, kira-kira bagaimana respon Civil Engineer disana, ya?




Kalau di Indonesia, beban angin (W) sepertinya sudah masuk ke peraturan pembebanan indonesia – tapi sepertinya kalah “tenar” dibanding dengan beban mati (D), beban hidup (L), dan beban gempa (E).
Tapi, walaupun tidak setenar mereka, sepertinya sudah mulai diperhatikan – setidaknya beberapa gedung sudah di-analisis menggunakan model dan terowongan angin. Mungkin karena sudah mulai banyak bangunan tinggi dan ramping ya? Dulu kan, sewaktu harga tanah murah, biasanya bangunannya melebar horizontal.
Apa ya yang kuingat tentang beban angin? Oh ya, satuannya kg/m2 trus selalu tegak lurus dengan atap/bidang, trus ada yang tekan dan ada yang hisap. Oh ya, dulu katanya angin bisa membuat bangunan ber-resonansi. Ingat jembatan gantung yang bergoyang itu? Jadi walau struktur diharapkan ringan tapi kekakuannya harus cukup rigid sehingga nggak terombang-ambing.
Lha, kalo soal bentuk bangunan? Soal aerodinamika gimana? Wah, nggak tahu soal itu. Dulu sepertinya pelajaran tentang aerodinamika gedung nggak masuk silabus ya? Mungkin ada teman yang sekarang studi atau bergelut di bidang ini? Aku sih nggak minat, takut masuk angin..! Hehehe..!
Mudah-mudahan hurricane seperti Katrina nggak mampir ke Indonesia, tapi jikalau mampir (akibat global warming) mudah-mudahan para engineer disini sudah siap.Jadi paling tidak nggak ada kerusakan berat, paling cuma di bagian cladding/wall saja.



Ya memang harusnya begitu, lha wong kita ini sudah dikasih kemudahan nggak ada beban salju kok, masak ngitung angin aja nggak mau. Atau, lebih hebat lagi jika anginnya bisa dikonversi jadi energi untuk penerangan atau AC. Wah, hebaat…!

Read More

Jembatan Pusat Pascasarjana UGM

Jembatan Pusat Pascasarjana UGM

Bekas kampus Jurusan Teknik Sipil FT UGM telah menjadi Pusat Sekolah Pascasarjana UGM, dan disalah-satu pojoknya ada sebuah jembatan lengkung. Ini fotonya:


jembatan \"pseudo\" lengkung

Yang ini lengkungnya artificial doang – karena sesungguhnya lengkungnya tidak punya arti struktur, dan hanya berfungsi sebagai hiasan arsitektural. Struktur sesungguhnya hanyalah girder biasa, dengan bentang yang pendek.

Kalo mau contoh jembatan lengkung yang struktural, contohnya adalah jembatan lengkung jenis Nielsen-Lohse. Gambarnya jembatan type Nielsen-Lohse adalah yang seperti dibawah ini.


Jembatan type Nielsen-Lohse

Read More

Sedikit tentang Steel Reinforced Concrete..

Pastilah kita sudah sangat mengenal dengan istilah reinforced concrete (RC) atau ataupun juga Steel Structure. Tetapi mungkin masih sangat jarang yang mengenal Steel Reinforced Concrete (SRC). Steel Reinforced Concrete atau beberapa juga mengenal dengan sebutan Concrete Enchased Steel Composite merupakan struktur komposit gabungan dari RC dan steel structure. SRC memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing element dasar pembentuknya, yaitu stiffness dari RC dan high strength dari steel shapenya. Gabungan dari keduanya ini menjadikan SRC memiliki kekakuan dan kekuatan (moment nominal) yang sangat tinggi.

Beberapa tahun belakangan ini, penelitian mengenai SRC banyak dilakukan di Jepang, Taiwan dan Amerika. Dan Aplikasi dari SRC ini sudah mulai banyak digunakan untuk struktur bangunan bertingkat antara 5 – 20 lantai.

Untuk menganalisis struktur SRC ada beberapa metode yang bisa digunakan.

Pertama, dengan menggunakan Superposition Method. Cara ini sangat sederhana, hanya dengan menambahkan momen nominal dari RC dan momen plastis dari Steel Shape-nya. Asumsi dasar kenapa digunakan momen plastis untuk steel shapenya dikarenakan kekangan beton diluar steel shape secara otomatis berlaku sebagai lateral support yang menghindarkan dari lateral torsional buckling. Sedangkan local buckling dicegah dengan pemilihan dimensi steel shape sehingga merupakan penampang kompak (pemilihan penambang baja menggunakan tabel profil umumnya sudah merupakan jenis penampang kompak). Dari asumsi tersebut maka perhitungan menggunakan superposition method ini dilakukan. Perhitungan ini memiliki bias yang cukup besar, hal ini bisa dimaklumi karena garis netral dari RC dan Steel shape berbeda. Superposition method ini memberikan hasil yang cukup konservatif ± 25% lebih rendah dari kapasitas moment penampang sebenarnya. Tapi karena kemudahan perhitungannya dan hasil yang masih cukup konservatif perhitungan dengan metode ini cukup disukai oleh kalangan praktisi.

Cara kedua dalam analysis penampang SRC menggunakan Complete Composite Plastic Stress Distribution (Composite-PSD). Metode analisis ini telah menggunakan satu garis netral yang mewakili penampang SRC. AISC,2005 sudah memberikan complete equation untuk penyelesaian untuk metode ini. Dan belakangan ini, sebuah metode desain diperkenalkan dengan sudah memasukkan unsur daktilitas element sebagai salah satu parameter untuk mendesain SRC beam ini.

Perhitungan yang ketiga dengan memasukkan Strain Compatibility Condition atau disebut dengan Composite-SC Method. Metode ini adalah metode perhitungan penampang yang paling presisi dan dilakukan menggunakan program bantu untuk section analysis seperti Xtract ataupun Biax. Dengan program ini kita sudah bisa memasukkan fcc’ (kuat tekan beton terkekang) akibat partially confined akibat sengkang ataupun super confined akibat beton terkekang didalam area steel shape sehingga dapat kita ketahui kapasitas moment ultimate SRC beam ataupun P-M interaction untuk SRC Column.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam struktur SRC adalah bekerjanya aksi komposit antara RC dan Steel Shape-nya. Natural bonding antara flange dan beton sangat kecil dibandingkan gaya tekan pada blok beton yang bekerja diatas flange steel shape. Sehingga apabila bila kapasitas geser pada bidang pertemuan antara beton dan baja ini tidak mencukupi maka splitting concrete akan terjadi, dan preliminary failure tak dapat dicegah. Disinilah perbedaan fungsi sengkang yang terpasang pada RC dan SRC. Pada SRC, sengkang selain memberikan daktilitas element tertentu juga didesain untuk mencegah terjadinya splitting concrete. Selain menggunakan sengkang, aksi composite untuk SRC juga bisa menggunakan shear stud. Tetapi dari beberapa literature menyebutkan bahwa penggunaan shear stud untuk struktur SRC menyebabkan preliminary crack akibat konsentrasi tegangan yang terjadi.

Segini dulu cerita mengenai SRC, insya Allah lain lain kesempatan saya tambahkan lagi informasi seputar SRC ini. Yang penting sudah posting buat ngeramein konten.. hehehe.. “disela-sela running ABAQUS yang menjemukan…..”

Keterangan gambarnya gak keluar semua nih… gak dong scriptnya..

Read More
content top